Boltara (Info Penyuluh) – Sebanyak 15 Penyuluh Agama dari Kantor Kemenag Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) mengikuti Lokakarya Pengayaan Wacana Agama dan Keragaman yang berlangsung di Aula Kantor Kemenag Kota Kotamobagu.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) ini, digelar selama dua hari sejak Rabu 6 Mei hingga Kamis 7 Mei 2026. Menghadirkan 100 penyuluh dari berbagai lintas agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha) berasal dari 7 Kabupaten/Kota.
ICRS sendiri merupakan konsorsium tiga universitas besar di Yogyakarta—UGM, UIN Sunan Kalijaga, dan UKDW—yang sejak 2017 konsisten bermitra dengan Kementerian Agama dalam memperkuat literasi keagamaan dan moderasi beragama.
Dalam lokakarya ini, para peserta dibekali materi dari lima fasilitator ahli, di antaranya:
1. Dr. Leonard Ch. Epafras (Agama dan Mayantara)
2. Pdt. Handi Hadiwitanto, Ph.D. (Agama dan Martabat Kemanusiaan)
3. Natalia Olivia Kusuma Dewi Lahamendu, M.Si. (Agama dan Bina Damai)
4. Putri D. Potabuga, M.Si. (Agama dan Ekologi)
5. Dr. Devy K.G. Sondakh, M.H. (Agama dan HAM)
Azam Anhar, salah satu Penyuluh Agama Islam dari Kemenag Boltara, mengaku mendapat perspektif baru yang menyegarkan. Ia menyoroti materi dari Pdt. Handi Hadiwitanto mengenai martabat kemanusiaan.
"Materi ini sangat kontras dan menyentuh realitas. Kami diajak merefleksikan bagaimana sering kali perilaku manusia justru bertolak belakang dengan inti ajaran agamanya. Sebagai akademisi dan pendeta, beliau menekankan pentingnya menaati Tuhan tanpa harus menutup mata terhadap dinamika kehidupan di sekitar kita," ujar Azam.

Azam menceritakan betapa "segar" materi yang ia terima, terutama saat Pdt. Handi Hadiwitanto, Ph.D membedah relasi agama dan martabat kemanusiaan. Azam terkesan dengan cara Pdt. Handi membenturkan idealisme ajaran agama dengan realitas sosial yang sering kali kontradiktif.
"Pesan yang saya tangkap adalah bagaimana kita tetap setia pada ajaran Tuhan, namun tetap peka dan relevan dengan perubahan zaman. Ini modal berharga bagi kami saat terjun ke masyarakat nanti," ungkapnya.
Program kolaborasi antara Kemenag dan ICRS Yogyakarta ini menjadi ruang refleksi bagi para garda terdepan moderasi beragama.
Humas